Gombrich, Penderitaan dan Kemanusiaan (Refleksi dari Al-Quran)
Anak saya kemarin membaca bab Tuhan Yang Maha Esa di buku Sejarah Dunia bagi Pembaca Muda karya Gombrich. Buku ini menarik karena tidak hanya menceritakan sejarah, tapi juga mengajak pembaca untuk berpikir. Gombrich tidak menghakimi, dan mengajak kita melihat bagaimana stereotipe, isolasi budaya, dan identitas agama bisa membuat perpecahan yang masih terasa sampai sekarang.
Setelah membaca, anak saya diminta membuat narasi tentang
apa yang dia baca. Di akhir narasi, muncul pertanyaan penting:
“Kenapa Tuhan membiarkan ada penderitaan?”
Mencari
Jawaban dari Al-Quran
Pertanyaan itu membuat saya ikut berpikir. Saya bilang, “Karena kita orang Islam, mari kita cari jawabannya di Al-Quran.”
Berikut ini hubungan antara bacaan dari Gombrich dan perspektif Al-Quran:
1. Bangsa Yahudi merasa sebagai bangsa “terpilih”
Tanggapan Al-Quran: Al-Quran mengakui bahwa Bani Israil
pernah diberi keutamaan (Q.S. 2:47, 122)
2. Isolasi dari bangsa lain
Tanggapan Al-Quran: Sebagian Bani Israil menyimpang dan
menutup diri, bahkan menuduh Tuhan “kikir” (Q.S. 2:88-89; 5:64)
3. Penderitaan mereka
Tanggapan Al-Quran: Penderitaan bisa datang dari penindasan
luar atau akibat kesalahan mereka sendiri (Q.S. 7:137; 4:155)
4. Rajin belajar dan saleh, tapi tetap menderita
Tanggapan Al-Quran: Ilmu tanpa pengamalan tidak cukup
memberi petunjuk (Q.S. 62:5; 2:101-102)
Refleksi
tentang Penderitaan
Pertanyaan besar:
“Kenapa Tuhan membiarkan ada penderitaan, bukan hanya untuk
bangsa Yahudi, tapi juga untuk semua manusia?”
Penderitaan dan ujian adalah bagian dari kehidupan yang
Allah berikan untuk menguji keimanan dan kesabaran kita. Allah memberikan akal
dan iman agar kita bisa belajar dari ujian tersebut, menjadi lebih kuat dan
lebih dekat dengan-Nya. Kesabaran dan keteguhan hati adalah kunci untuk melewati
ujian hidup dengan baik.Al-Quran mengajak kita untuk merenung dan mengambil
hikmah dari setiap ujian tanpa menghakimi. (Q.S. 4:79; 2:155-157; 7:165-166;
29:2-3; 12:87; 2:177; 20:2; 2:82; 2:214).
Wallahu alam
bish-shawab
Sumber:
Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda, Ernst H. Gombrich (Marjin Kiri, 2015)
The Clear Quran: A Thematic English Translation, translator: Dr. Mustafa Khattab
Tafsir Ibnu Katsir

Comments
Post a Comment